Learning Blogger akan memberi ilmu tentang tips dan trik blogger , tutorial blogger dan template SEO

Ziarah Kubur Menurut Pandangan ASWAJA - edisi 3

Posted by



Muqoddimmah

Dalam tradisi kaum muslimin di Indonesia yang notabene berakidah Asy’ariy dan berfikih Syafi’I dikenal istilah ziarah kubur atau kadang disebut sebagai Wisata Religi. Di pulau Jawa, dikenal istilah Ziarah Wali Songo, sedangkan di Madura kita mengenal makam Syaikhona Kholil Bangkalan, makam asta Batu Ampar, makam asta Sayyid Yusuf Al-Anggawi dan asta tinggi di Sumenep. Selain itu, juga ada makam-makam para habaib yang mana setiap tahun diadakan acara haul, diziarahi oleh para peziarah dari berbagai daerah

Dalil Ziarah Kubur

Ada banyak dalil ziarah kubur. Yang paling terkenal adalah hadits riwayat Imam Muslim dari Buraidah bin Al-Hushaib radhiyallâhu ‘anhu dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam beliau bersabda :

إِنِّيْ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ فَزُوْرُوْهَا
”Sesungguhnya aku pernah melarang kalian untuk menziarahi kubur, maka (sekarang) ziarahilah kuburan.” HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai dan al Hakim dengan perbedaan lafadh.

Hadits di atas diriwayatkan oleh banyak perawi. Dalam riwayat yang beragam itu dijelaskan beberapa manfaat ziarah kubur antara lain untuk mengingatkan kematian dan akhirat, menimbulkan sikap zuhud terhadap dunia, melembutkan hati dan untuk mendoakan orang yang meninggal (lihat Mawsuah al Yusufiyyah, hal 315).

Ahli Kubur hidup di Alam Barzakh
Ahli kubur sebenarnya tidak meninggal, namun mereka hidup di alam kubur. Mereka yang baik mendapatkan ni’mat kubur sedangkan mereka yang tidak baik mendapatkan siksa kubur wal ‘iyadzu biLlah. Abuya Assayyid Muhammad Alawi Al-Maliky rohimahullah ta’ala Dalam kitab Mafahim Yajibu an Tushohhaha hal.261 menukil hadist Al-Qolib mengkisahkan dialog Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam pada waktu perang Badar. Beliau Berbicara dengan orang orang kafir yang telah dikubur. Sayyidina Umar ra. berkata pada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam:
مَا تَكَلَّمُ مِنْ اَجْسَادٍ لاَ اَرْوَاحَ فِيْهَا ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ مَا اَنْتُمْ بِاَسْمَعَ لِمَا اَقُوْلُ مِنْهُمْ (رواه البخارى ومسلم والنسائى)
Wahai Rasulullah ! Mengapa engkau berbicara dengan jasad yang tidak memiliki ruh ? Maka Rasullah saw bersabda : Demi Allah yang jiwa Muhammad dalam kekuasaanNya. Kalian tidak lebih mendengar ucapanku dibanding mereka ini (HR. Bukhori Muslim dan Nasai)
Jika orang kafir dapat mendengar di alam kuburnya, maka tentu saja seorang mu’min akan lebih mendengar. Apalagi para Nabi, tentu saja mereka hidup di alam barzakh dengan kehidupan yang sempurna. Allah SWT berfirman :
وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوْا فىِ سَبِيْلِ اللهِ اَمْوَاتًا بَلْ اَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَ ( آل عمران 169)
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki.

Ziaroh Kubur, Tawassul dan Tabarruk

Adapun ziaroh kubur dengan niat tawassul (berwasilah dalam memohon kepada Allah dengan menyebut nama orang yang dekat kepada Allah) dan tabarruk (mengambil barokah) kepada kuburan para wali bukanlah sebuah tradisi yang khas Indonesia, namun merupakan tradisi kaum muslimin di seluruh dunia sejak masa awal Islam (kurun salaf, 3 abad pertama). Berkata Imam al Ghozali rohimahullah ta’ala dalam kitab al Ihya’ 2/247) :
وَيَدْخُلُ فىِ جُمْلَتِهِ زِيَارَةُ قُبُوْرِ اْلاَنْبِيَاءِ وَزِيَارَةُ قُبُوْرِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَسَائِرِ الْعُلَمَاءِ وَاْلاَوْلِيَاءِ وَكُلُّ مَنْ يُتَبَرَّكُ بِمُشَاهَدَتِهِ فىِ حَيَاتِهِ يُتَبَرَّكُ بِزِيَارَتِهِ بَعْدَ وَفَاتِهِ (الاحياء 2 – 247)
Termasuk dalam ziaroh yang dianjurkan adalah ziaroh ke kuburan para Nabi, sahabat, tabiin dan semua ulama’ dan awliya’. Dan semua yang ditabarruki dengan melihat mereka di masa hidup, maka bisa ditabarroki dengan menziarahi kuburnya setelah mereka wafat.

Mengenai kuburan selain Nabi, maka Imam Syafii rohimahullah ta’ala dalam kitab Tarikh Baghdad (1/123) diriwayatkan berkata :
سَمِعْتُ الشَّافِعِى يَقُوْلُ : إِنِّى لَأَتَبَرَّكُ بِأَبِى حَنِيْفَةَ وَاَجِيْئُ إِلَى قَبْرِهِ فىِ كُلِّ يَوْمٍ –يَعْنِى زَائِرًا- فَإِذَا عَرَضَتْ لِى حَاجَةٌ صَلَّيْتُ رَكْعَتَيْنِ وَجِئْتُ إِلىَ قَبْرِهِ وَسَأَلْتُ اللهَ تعالى الْحَاجَةَ عِنْدَهُ فَمَا تَبْعُدُ عَنِّى حَتَّى تُقْضَى (تاريخ بغداد 1-123)
Imam Syafii rohimahullah ta’ala berkata : “Aku bertabarruk dengan Imam Abu Hanifah dan aku datang berzaiarah ke kuburannya setiap hari. Jika ada hajat maka aku sholat dua rokaat lalu datang ke kuburan beliau, memohon kepada Allah di dekat kubur beliau, maka tak lama hajatkupun terpenuhi.”
Dalam kitab Syarh Ushul I’tiqad Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, karya al-Hafizh al-Lalaka’i rohimahullah ta’ala dari bagian muqaddimah,  Al-Hafizh al-Lalaka’i rohimahullah ta’ala berkata :

آثارهم على الزمان متبوعة، ... وقبورهم مزارة ، ... يزارون في قبورهم كأنهم أحياء في بيوتهم ، لينشر الله لهم بعد موتهم الأعلام حتى لا تندرس أذكارهم على الأعوام ، ولا تبلى أساميهم على مر الأيام

“Peninggalan-peninggalan para ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah sepanjang masa selalu diikuti. Makam-makam mereka selalu diziarahi. Mereka selalu diziarahi di makam-makam mereka seakan-akan mereka masih hidup di rumah-rumah mereka. Agar`supaya Allah menyebarkan setelah meninggalnya mereka tanda-tanda bagi mereka sehingga kenang-kenangan mereka tidak sirna dalam perjalanan tahun, nama-nama mereka tidak rusak dalam perjalanan waktu.” (Al-Hafizh al-Lalaka’i, Syarh Ushul I’tiqad Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, juz 1 hlm 25).
Dari tulisan al-Lalaka’i di atas, tanda-tanda ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah adalah :

1) Makam-makam mereka selalu diziarahi. Jelas yang diziarahi adalah makam para ulama dan auliya.
2) Mereka selalu diziarahi di makam-makam mereka seakan-akan mereka masih hidup di rumah-rumah mereka.
.
Penutup
Sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Zarruq al Maliki rohimahullah ta’ala dalam Qowaidut Taswwuf kebiasaan berziarah dan bertabarruk dengan kuburan orang sholih adalah sebuah tradisi ummat Islam dari generasi, yang menghubungkan ummat dengan generasi pendahulunya secara batin. Hal ini akan menguatkan hubungan mahabbah umat kepada kaum salafus sholih mereka, di samping mereka dapat memohon kepada Allah dengan bertabarruk dengan para salafus sholih sebagaimana dilakukan ulama’ kaum muslimin dari generasi ke generasi.



FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 00.20

0 komentar:

Posting Komentar

Learning Blogger akan memberi ilmu tentang tips dan trik blogger , tutorial blogger dan template SEO

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.