Muqoddimmah
Dalam
tradisi kaum muslimin di Indonesia yang notabene berakidah Asy’ariy dan
berfikih Syafi’I
dikenal istilah ziarah kubur atau kadang disebut sebagai Wisata Religi. Di
pulau Jawa, dikenal istilah Ziarah Wali Songo, sedangkan di Madura kita
mengenal makam Syaikhona Kholil Bangkalan, makam asta Batu Ampar, makam asta
Sayyid Yusuf Al-Anggawi dan asta tinggi di Sumenep. Selain
itu, juga ada makam-makam para habaib yang mana setiap tahun diadakan acara
haul, diziarahi oleh para peziarah dari berbagai daerah
Dalil Ziarah Kubur
Ada
banyak dalil ziarah kubur. Yang paling terkenal adalah hadits riwayat Imam
Muslim dari Buraidah bin Al-Hushaib radhiyallâhu
‘anhu dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam beliau
bersabda :
إِنِّيْ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ
زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ فَزُوْرُوْهَا
”Sesungguhnya aku pernah melarang kalian
untuk menziarahi kubur, maka (sekarang) ziarahilah kuburan.” HR. Muslim, Abu
Dawud, Tirmidzi, Nasai dan al Hakim dengan perbedaan lafadh.
Hadits
di atas diriwayatkan oleh banyak perawi. Dalam riwayat yang beragam itu
dijelaskan beberapa manfaat ziarah kubur antara lain untuk mengingatkan
kematian dan akhirat, menimbulkan sikap zuhud terhadap dunia, melembutkan hati
dan untuk mendoakan orang yang meninggal (lihat Mawsuah al Yusufiyyah, hal
315).
Ahli
Kubur hidup di Alam Barzakh
Ahli
kubur sebenarnya tidak meninggal, namun mereka hidup di alam kubur. Mereka yang
baik mendapatkan ni’mat kubur sedangkan mereka yang tidak baik mendapatkan
siksa kubur wal ‘iyadzu biLlah. Abuya Assayyid Muhammad Alawi Al-Maliky
rohimahullah ta’ala Dalam kitab Mafahim Yajibu an Tushohhaha hal.261
menukil hadist Al-Qolib mengkisahkan dialog Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam pada waktu perang Badar.
Beliau Berbicara dengan orang orang kafir yang telah dikubur. Sayyidina Umar
ra. berkata pada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam:
مَا تَكَلَّمُ مِنْ اَجْسَادٍ لاَ اَرْوَاحَ
فِيْهَا ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : وَالَّذِى نَفْسُ
مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ مَا اَنْتُمْ بِاَسْمَعَ لِمَا اَقُوْلُ مِنْهُمْ (رواه
البخارى ومسلم والنسائى)
Wahai
Rasulullah ! Mengapa engkau berbicara dengan jasad
yang tidak memiliki ruh ? Maka Rasullah
saw bersabda : “Demi Allah yang jiwa
Muhammad dalam kekuasaanNya. Kalian tidak lebih mendengar ucapanku dibanding
mereka ini “(HR. Bukhori Muslim dan
Nasai)
Jika
orang kafir dapat mendengar di alam kuburnya, maka tentu saja seorang mu’min
akan lebih mendengar. Apalagi para Nabi, tentu saja mereka hidup di alam
barzakh dengan kehidupan yang sempurna. Allah SWT berfirman :
وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوْا فىِ سَبِيْلِ اللهِ اَمْوَاتًا
بَلْ اَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَ ( آل عمران 169)
Janganlah kamu mengira bahwa
orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi
Tuhannya dengan mendapat rezki.
Ziaroh
Kubur, Tawassul dan Tabarruk
Adapun
ziaroh kubur dengan niat tawassul (berwasilah dalam memohon kepada Allah dengan
menyebut nama orang yang dekat kepada Allah) dan tabarruk (mengambil barokah)
kepada kuburan para wali bukanlah sebuah tradisi yang khas Indonesia, namun
merupakan tradisi kaum muslimin di seluruh dunia sejak masa awal Islam (kurun
salaf, 3 abad pertama). Berkata Imam al Ghozali rohimahullah ta’ala dalam
kitab al Ihya’ 2/247) :
وَيَدْخُلُ فىِ جُمْلَتِهِ زِيَارَةُ قُبُوْرِ
اْلاَنْبِيَاءِ وَزِيَارَةُ قُبُوْرِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَسَائِرِ
الْعُلَمَاءِ وَاْلاَوْلِيَاءِ وَكُلُّ مَنْ يُتَبَرَّكُ بِمُشَاهَدَتِهِ فىِ
حَيَاتِهِ يُتَبَرَّكُ بِزِيَارَتِهِ بَعْدَ وَفَاتِهِ (الاحياء 2 – 247)
Termasuk
dalam ziaroh yang dianjurkan adalah ziaroh ke kuburan para Nabi, sahabat,
tabiin dan semua ulama’ dan awliya’. Dan semua yang ditabarruki dengan melihat
mereka di masa hidup, maka bisa ditabarroki dengan menziarahi kuburnya setelah
mereka wafat.
Mengenai kuburan selain Nabi, maka
Imam Syafii rohimahullah
ta’ala dalam kitab Tarikh Baghdad (1/123)
diriwayatkan berkata :
سَمِعْتُ الشَّافِعِى يَقُوْلُ : إِنِّى
لَأَتَبَرَّكُ بِأَبِى حَنِيْفَةَ وَاَجِيْئُ إِلَى قَبْرِهِ فىِ كُلِّ يَوْمٍ –يَعْنِى
زَائِرًا- فَإِذَا عَرَضَتْ لِى حَاجَةٌ صَلَّيْتُ رَكْعَتَيْنِ وَجِئْتُ إِلىَ
قَبْرِهِ وَسَأَلْتُ اللهَ تعالى الْحَاجَةَ عِنْدَهُ فَمَا تَبْعُدُ عَنِّى
حَتَّى تُقْضَى (تاريخ بغداد 1-123)
Imam
Syafii rohimahullah
ta’ala berkata : “Aku bertabarruk dengan
Imam Abu Hanifah dan aku datang berzaiarah ke kuburannya setiap hari. Jika ada
hajat maka aku sholat dua rokaat lalu datang ke kuburan beliau, memohon kepada
Allah di dekat kubur beliau, maka tak lama hajatkupun terpenuhi.”
Dalam
kitab Syarh Ushul I’tiqad Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, karya al-Hafizh
al-Lalaka’i rohimahullah ta’ala dari bagian muqaddimah, Al-Hafizh al-Lalaka’i rohimahullah ta’ala
berkata :
آثارهم على الزمان متبوعة، ... وقبورهم مزارة ، ... يزارون في قبورهم كأنهم أحياء في بيوتهم ، لينشر الله لهم بعد موتهم الأعلام حتى لا تندرس أذكارهم على الأعوام ، ولا تبلى أساميهم على مر الأيام
“Peninggalan-peninggalan para ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah sepanjang masa selalu diikuti. Makam-makam mereka selalu diziarahi. Mereka selalu diziarahi di makam-makam mereka seakan-akan mereka masih hidup di rumah-rumah mereka. Agar`supaya Allah menyebarkan setelah meninggalnya mereka tanda-tanda bagi mereka sehingga kenang-kenangan mereka tidak sirna dalam perjalanan tahun, nama-nama mereka tidak rusak dalam perjalanan waktu.” (Al-Hafizh al-Lalaka’i, Syarh Ushul I’tiqad Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, juz 1 hlm 25).
Dari tulisan al-Lalaka’i di atas,
tanda-tanda ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah adalah :
1) Makam-makam mereka selalu diziarahi. Jelas yang diziarahi adalah makam para ulama dan auliya.
1) Makam-makam mereka selalu diziarahi. Jelas yang diziarahi adalah makam para ulama dan auliya.
2) Mereka selalu diziarahi di
makam-makam mereka seakan-akan mereka masih hidup di rumah-rumah mereka.
.
Penutup
Sebagaimana
dikatakan oleh Syaikh Zarruq al Maliki rohimahullah ta’ala dalam
Qowaidut Taswwuf kebiasaan berziarah dan bertabarruk dengan kuburan orang
sholih adalah sebuah tradisi ummat Islam dari generasi, yang menghubungkan
ummat dengan generasi pendahulunya secara batin. Hal ini akan menguatkan
hubungan mahabbah umat kepada kaum salafus sholih mereka, di samping mereka
dapat memohon kepada Allah dengan bertabarruk dengan para salafus sholih
sebagaimana dilakukan ulama’ kaum muslimin dari generasi ke generasi.


0 komentar:
Posting Komentar